Kamis, 21 Juni 2012

“SEJENAK BERPIKIR SERIUS TENTANG KESELAMATAN”


Banyak orang berpikir serius tentang keselamatan jiwanya ketika mereka menyadari bahwa batas akhir hidupannya di dunia ini semakin dekat, entah karena faktor umur atau sakit dan derita yang menimpahnya. Karena itu, banyak diantara kita orang Katolik mulai berbuat baik, berderma dan terlebih lagi menghampiri kamar pengakuan dosa, atau setidak-tidaknya meminta pastor untuk memberikan sakramen minyak suci pada hari-hari akhir hidup kita. Injil hari ini menceritakan tentang pujian Yesus akan seorang Yohanes Pembaptis, “diantara yang pernah lahir dari rahim wanita, tak seorangpun sama seperti Yohanes Pembaptis.” Tapi, renungkanlah pernyataan selanjutnya; “...tapi Yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari dia.” Itulah Yesus, Sang Almasih. Yohanes boleh mewartakan pertobatan dan semua orang datang kepadanya untuk dibaptis, tapi hanya dalam dan melalui Yesuslah keselamatan manusia terpenuhi. Yesuslah sumber keselamatan. Yesuslah tujuan akhir perziarahan setiap insan di dunia ini. Oleh karena itu, tanpa menunggu sampai garis batas akhir akan tiba, tapi pagi ini, baiklah setiap orang berpikir serius dan bertanya diri; “Sudahkah aku berbuat sesuatu untuk keselamatanku kelak? Ataukah aku sekarang bersibuk diri dengan kebahagiaan (tapi lebih soal kesenangan diriku semata?) Ingat pesanku selalu; “Allah tidak pernah bertanya kepadamu ketika Ia menciptakanmu, tapi soal keselamatan, Anda sendirilah yang harus membuat keputusan atas tawaran Allah.”Kawan, tidak ada yang terlambat di mata Tuhan, tapi bila kesempatan itu ada di hadapanmu, mengapa engkau membuat dirimu menjadi yang terlambat, bahkan tidak mau mengambil kesempatan itu? Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah? Dari Pencipta Jadi Tukang Kayu? Inti KeKristenan adalah keyakinan bahwa Allah datang ke Dunia secara Pribadi di dalam AnakNya. Alkitab mengajarkan Yesus bukanlah mahluk ciptaan seperti malaikat, tetapi Dia adalah Pencipta alam semesta. Sebagai teolog, J.I Packer menulis, “Injil mengatakan kepada kita bahwa Pencipta kita telah menjadi Penebus kita.”[2] Perjanjian Baru mengungkapkan, atas kehendak Bapa, Yesus untuk sementara mengesampingkan kuasa dan kemuliaanNya untuk menjadi bayi mungil tak berdaya. Setelah besar, Yesus bekerja di bengkel tukang kayu, mengalami rasa lapar, capai, menderita rasa sakit, dan kematian seperti kita. Kemudian pada usia 30 tahun, Dia memulai pelayananNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar