LINGKUNGAN
ST. ALOYSIUS GONZAGA
SANGGRAHAN GK – PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO
a. Menyiapkan dan Memotivasi Umat dan Pengurus Lingkungan
Secara faktual, yang menjadi kendala di lapangan, ternyata tidaklah mudah mencari kader pengurus lingkungan. Ada kecenderungan di antara umat untuk “mengabadikan” para pengurus lingkungan. Kesulitan mencari pengurus lingkungan semakin nyata tatkala lingkungan hendak dimekarkan. Menurut saya, kesulitannya bukan lantaran tidak adanya orang yang mau dan mampu, melainkan karena belum adanya sistem yang mempersiapkan para kader pengurus lingkungan. Selama ini pembekalan dan penyegaran (ketua) pengurus lingkungan ditujukan kepada mereka yang baru atau sudah ditunjuk menjadi pengurus. Maka bila bermaksud menjaring “wajah baru” dalam kepengurusan lingkungan, terlebih demi regenerasi pelayanan umat di lingkungan, kesulitan yang sama terulang: mereka yang akan dipilih dan ditunjuk merasa belum siap lantaran pelbagai dalih dan alasan. Di lain pihak wacana dan literature pelayanan untuk para pengurus lingkungan juga belum tersedia.
Tuhan Yesus sendiri telah memberi perintah kepada kita, para pengikut-Nya, untuk saling mengasihi (Yoh 13:34) dan saling melayani (lih. Yoh 13:14-15). Amanat Kristus ini secara konkret dan terus-menerus perlu kita wujud-nyatakan bersama orang-orang terdekat, yakni keluarga kita dan umat lingkungan terdekat. Dengan jumlah umat paroki yang sedemikian besar, bahkan tidak jarang kita selisih jalan saat merayakan Misa hari Minggu, mewujudkan semangat kasih dan pelayanan dalam lingkup keluarga dan lingkungan terdekat adalah pilihan yang paling realistis.
Memang ada sebagian umat yang merasa masih ”belum butuh lingkungan”, termasuk mereka yang sudah menjadi aktivis di aneka kelompok kategorial. Namun, menurut saya, bergabung dalam persekutuan umat di lingkungan-teritorial ini patut diupayakan karena lingkungan merupakan salah satu wahana mewujudkan amanat Kristus tadi. Selain itu, persekutuan umat di lingkungan lebih menampilkan ”wajah Katolik”, dimana umat dari pelbagai latar belakang etnis, budaya, sosial-ekonomi, juga selera dan tingkat rohani, berhimpun dan bersekutu berdasarkan iman akan Kristus (dan tentu saja juga berdasarkan pembagian administrarif-teritorial paroki). Memang pelayanan rohani ”umum-teritorial” di lingkungan ini masih perlu dilengkapi dengan pelayanan aneka kelompok kategorial yang lebih menjawabi kebutuhan dan selera rohani masing-masing pribadi yang berbeda.
Demikian pula, dalih betapa sibuknya anggota keluarga sampai tidak ada waktu untuk kegiatan lingkungan, bisa ditawari dengan keterlibatan ”wakil keluarga” sedemikian rupa sehingga komunikasi antara keluarga dan umat lingkungan tidak terputus. Untuk memahami lebih baik mengenai bagaimana mewujudkan tugas-tugas gereja dalam dan bersama lingkungan, kita diajak merenungkan cara hidup Gereja Perdana dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Dari sini selanjutnya kita diajak menggagas lebih lanjut bagaimana secara konkret tugas-tugas tersebut dapat diwujudkan dalam dan bersama lingkungannya.
b. Menjadikan Lingkungan Sebagai KBG (Komunitas Basis Gerejani)
Dalam SAGKI 2000, Gereja Katolik Indonesia mencanangkan Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai cara baru hidup menggereja agar kehadiran Gereja sungguh memberi arti dan sumbangan bagi masyarakat sekitar (termasuk di kala masyarakat kita menderita akibat aneka bencana alam, “bencana lapindo”, kenaikan BBM, dsb). Memang masih ada perdebatan, apakah lingkungan itu sudah merupakan komunitas basis gerejawi? Daripada mempersoalkan “istilah”, akan lebih baik bila kita mengupayakan agar lingkungan/kring/stasi kita menjadi suatu komunitas basis gerejani. Maka sebagai suatu komunitas basis gerejani, kiranya pembicaraan bersama dengan diterangi Kitab Suci perlu dikembangkan agar umat lingkungan senantiasa menemukan bentuk-bentuk diakonia dan martiria yang relevan untuk situasi-kondisi setempat.
c. Motivasi dan Spiritualitas Pengurus Lingkungan
Kita akan memfokuskan perhatian pada pengurus lingkungan secara konkret, mulai dari peran dan kinerjanya, motivasi dan spiritualitas yang perlu dihidupi, sampai aneka “panduan praktis” mewujudkan pelayanan murah hati (termasuk pada umat yang jarang muncul di lingkungan). Ada empat motivasi kesediaan untuk menerima tanggung jawab pelayanan di lingkungan ini (tentu dengan menimba inspirasi dari Kitab Suci dan Ajaran Gereja):
1. Merealisasikan tugas perutusan yang telah diemban sejak menerima Sakramen
Krisma, khususnya tugas sebagai Pengurus Lingkungan.
2. Sebagai perwujudan cinta kepada Tuhan Yesus dan Gereja,
3. Mempersembahkan talenta untuk “pembangunan jemaat”
4. Ajakan untuk terus memurnikan motivasi pelayanan
Sementara itu, ada tiga hal lagi yang berkaitan dengan Spiritualitas yang patut dihidupi oleh para pengurus lingkungan, yaitu:
1. Mengemban pelayanan murah hati seperti diilustrasikan dalam kisah saling membasuh kaki.
2. Semangat misioner, yakni siap sedia diutus, tidak harus pergi ke luar paroki lain, tetapi berani keluar dari kepentingan diri dan mulai terarah pada orang lain. Maka bagaimana secara konkret semangat 2D2K: Doa-Derma-Korban-Kesaksian, dapat diwujudnyatakan oleh para pengurus lingkungan.
Makna bekerjasama sebagai satu tim, seperti halnya Kristus mengutus para murid-Nya pergi berdua-dua.
d. Menanggapi Dalih Tidak Mau Melayani
Ada banyak dalih dan alasan bisa disebut yang membuat para kader pengurus lingkungan merasa diri belum siap, seperti tidak layak dan tidak pantas, tidak mampu, tidak ada waktu, dst. Kita akan mencoba menanggapi aneka dalih tersebut seperti: Asalkan ada kemauan, kemampuan dan ketrampilan bisa diupayakan dan ditingkatkan. Asalkan ada kemauan, akan berusaha menyempatkan waktu. Namun, untuk para “aktivis Gereja” yang sudah sibuk dengan aneka pelayanan dan tanggung jawab, sebaiknya membatasi diri
menerima “jabatan” pelayanan ini agar tidak mengecewakan umat ataupun menelantarkan keluarga. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para pengurusnya, dapat kita bantu dengan memberikan daftar buku yang bermanfaat untuk pelayanan umat di lingkungan.
e. Persoalan Klasik di Lingkungan
Kalau kita inventarisir berbagai persoalan klasik di lingkungan , maka kita juga perlu mengangkat dan mendiskusikan aneka persoalan klasik itu agar bisa menjadi pembelajaran bersama bagi kita, yakni:
1. "Jemput bola" gembala proaktif kepada: warga pindahan baru, katekumen, calon penerima sakramen, yang terbaring sakit, yang kurang aktif, dan yang miskin dan berkekurangan.
2. Pelayanan bagi yang berduka: penerimaan Sakramen Perminyakan, pelayanan bagi warga yang meninggal, dukungan bagi keluarga yang berkabung, dan pelayanan doa-misa arwah.
3. Pemberdayaan potensi umat, transparansi keuangan lingkungan, managemen Konflik dan Perbedaan Guyon Berlebihan.
4. Managemen Gossip, Alokasi Waktu dan Jam Karet.
5. Koq Sedikit yang ikut Pendalaman Iman?.
6. Melibatkan Generasi Muda.
7. Penyakit: Post Power Sindrom.
Yogyakarta, 24 Januari 2011
Pamong Lingkungan
Santo Aloysius Gonzaga
Paulus Darmawan PS
Ketua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar